Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengatasi Masalah Penggunaan Data yang Diretas dalam Upaya Penelitian

Sepasang ilmuwan kesehatan dan etika, satu dengan Institut Teknologi Federal Swiss, yang lain ETH Zurich, telah menerbitkan karya Perspektif dalam jurnal Nature Machine Intelligence, membahas etika peneliti menggunakan data yang diretas dalam upaya penelitian mereka. Dalam makalah mereka, Marcello Ienca dan Effy Vayena membahas batasan etika yang terlibat dalam penggunaan data yang diretas, membandingkannya dengan situasi serupa di masa lalu, dan menyimpulkan dengan menyarankan enam persyaratan yang mereka yakini harus digunakan peneliti saat mempertimbangkan penggunaan data yang diretas.

Seperti yang dicatat oleh penulis, data yang diretas menjadi tersedia bagi para peneliti secara teratur; data dari situs kencan Ashley Madison, misalnya, diretas dan diposting di internet pada tahun 2015. Dengan mempostingnya, data menjadi publik, yang membuat para peneliti legal untuk menggunakannya dalam studi mereka sendiri jika mereka mau. Namun, melakukan hal itu menimbulkan pertanyaan etis karena orang-orang yang diwakili oleh data tersebut belum memberikan izin mereka agar data mereka digunakan untuk tujuan tersebut.

Oleh karena itu penulis menyarankan bahwa komunitas riset perlu menetapkan apakah penggunaan data tersebut etis, dan jika demikian, dalam kondisi apa. Penulis membandingkan ini dengan contoh ambiguitas moral lainnya, seperti ilmuwan medis yang memperdebatkan etika menggunakan data yang dikumpulkan oleh dokter era Nazi yang melakukan eksperimen menyiksa pada orang yang tidak setuju. Mereka juga mencatat karya baru-baru ini oleh orang lain yang mencoba menetapkan pedoman untuk situasi yang menantang secara etis, seperti Laporan Belmont dan Konvensi Oviedo. Penulis menyimpulkan dengan mengusulkan serangkaian persyaratan etis yang dapat digunakan peneliti saat mempertimbangkan untuk menggunakan data yang diretas dalam upaya mereka.

Yang pertama adalah keunikan—apakah data yang diretas merupakan sumber daya yang unik sehingga tidak dapat ditemukan di tempat lain? Selanjutnya, mereka menyarankan peneliti melakukan penilaian risiko-manfaat dari nilai data dibandingkan dengan manfaat sosial yang mungkin diperoleh dari penggunaannya. Mereka juga menyarankan peneliti mempertimbangkan apakah ada kemungkinan untuk mendapatkan persetujuan dari orang-orang yang diwakili dalam data, dan jika tidak, apakah mungkin untuk mencegah data terikat pada individu. Mereka lebih lanjut menyarankan bahwa jika peneliti menggunakan data tersebut, mereka harus diminta untuk memberikan catatan tentang bagaimana data itu diperoleh. Dan mereka juga menyarankan agar privasi pengguna dipertimbangkan dan peneliti menjelaskan dalam makalah mereka bahwa data tersebut digunakan tanpa persetujuan. Dan akhirnya, mereka menyarankan agar setiap upaya penelitian yang melibatkan penggunaan data yang diretas harus terlebih dahulu menerima persetujuan Institutional Review Board.

Informasi lebih lanjut: Marcello Ienca dkk, Persyaratan etis untuk penelitian yang bertanggung jawab dengan data yang diretas, Nature Machine Intelligence (2021). DOI: 10.1038/s42256-021-00389-w
Heri MS
Heri MS Blogger Influencer dari Kuningan yang suka dengan dunia IT, Data Technology, website dan senang bereksplorasi tentang Ipteks. Semoga artikel saya ini bisa antik, otentik, asyik, unik dan menarik.

Posting Komentar untuk "Mengatasi Masalah Penggunaan Data yang Diretas dalam Upaya Penelitian"