Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Blended Learning : Aspek, Jenis, Manfaat, Kekurangan dan Kelebihan

Pembelajaran di zaman milenial ini dikembangkan dalam berbagai variasi, dari mulia pembelajaran seperti biasanya (offline) dan jarak jauh (online).

Apalagi dalam berbagai kondisi darurat, ada lembaga pendidikan dan di beberapa negara yang memakai pembelajaran campuran antara offline dan online secara bersamaan sesuai situasi dan kondisi. Nah, pembelajaran campuran tersebut lebih sering kita kenal dengan Blended Learning. Oleh karena itu, yuk kita simak penjelasan sebagai berikut.

DEFINISI BLENDED LEARNING

Blended learning adalah suatu model pembelajaran yang mengkombinasikan strategi pembelajaran tradisional di kelas (classroom lesson) yaitu secara tatap muka dengan pembelajaran berbasis online (e-learning) yang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sehingga dapat menggabungkan inovasi dan keuntungan teknologi pada pembelajaran online dengan interaksi dan partisipasi dari keuntungan pembelajaran tatap muka.
Pembelajaran menggunakan metode blended learning tidak hanya mengkombinasikan pembelajaran tatap muka dan online learning saja tetapi juga dapat berbentuk seperti metode, media, sumber, lingkungan ataupun strategi pembelajaran. Pembelajaran blended learning memberikan kesempatan untuk menciptakan pengalaman belajar dengan memanfaatkan keluwesan waktu dan tempat pembelajaran sehingga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi peserta didik untuk belajar.

Secara umum bisa disimpulkan bahwa model pembelajaran blended learning ini adalah perpaduan dari manfaat-manfaat pembelajaran online atau (e-learning) dengan pembelajaran tatap muka/(konvensional) agar bisa berjalan maksimal. Sehingga kedua aktivitas pembelajaran tersebut bisa saling menguatkan.

PENGERTIAN MENURUT PARA AHLI

  1. Menurut Thorne (2003), blended learning adalah model pembelajaran yang mengkombinasikan inovasi dan kemajuan teknologi dalam sistem belajar yang berlangsung secara online dan pembelajaran tradisional yang berlangsung interaksi serta partisipasi. 
  2. Menurut Bonk dan Graham (2006), blended learning adalah model belajar dengan perpaduan dua jenis kegiatan pembelajaran secara berbeda, yaitu antara metode pembelajaran tradisional (face to face) dengan sistem pembelajaran terdistribusi (distributed learning system). Sistem pembelajaran terdistribusi tersebut dilakukan pemanfaatan terbaik dari teknologi elektronik, seperti komputer dan internet sehingga bahan bajar bisa dengan mudah untuk akses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. 
  3. Menurut Noord (2007), blended learning adalah adalah gabungan atau kombinasi dari berbagai metode pembelajaran daring, luring dan tatap muka (in-person learning).
  4. Menurut Syarif (2012), blended learning adalah suatu pembelajaran yang bersifat fleksibel yang dalam implementasinya dengan kombinasi pembelajaran tradisional di dalam kelas dengan penggunaan e-learning (pembelajaran online) menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). 
  5. Menurut Husamah (2014), blended learning adalah gabungan dari beragam media pembelajaran yang serasi untuk menciptakan aktivitas belajar yang lebih unggul. Blended learning memiliki dua komponen inti yaitu pembelajaran tatap muka (face to face) dan pembelajaran online (e-learning). 

JENIS BLENDED LEARNING

Menurut Brooke (2015), model pembelajaran blended learning terdiri dari beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.

1. Face-to-face driver model 

Dalam model ini, pembelajaran online ditentukan berdasar per-kasus, artinya hanya peserta didik dalam kelas tertentu yang akan mendapat pembelajaran online. Model ini mengizinkan peserta didik yang menginginkan belajar di atas kelas yang sedang dijalani dengan cara memanfaatkan teknologi secara mandiri. Demikian halnya bagi peserta didik yang terlambat dalam mengikuti pelajaran, peserta didik tersebut dapat mengulang-ulang pembelajaran yang disampaikan secara online.

2. Rotation model 

Dalam model pembelajaran ini, peserta didik berotasi di antara kelas yang berbeda dengan jadwal tertentu, baik secara online maupun tatap muka dengan pendidik. Saat materi yang harus dikuasai oleh peserta didik berupa perangkat lunak atau pembelajaran perangkat lunak membantu penguasaan materi oleh peserta didik, maka pembelajaran dilakukan dalam laboratorium komputer, sedangkan untuk materi yang memerlukan penjelasan langsung dari pendidik, pembelajaran dilakukan di kelas.

3. Online driver model 

Model ini kebalikan dari face-to-face driver model. Dalam model ini, materi disampaikan secara online dan pertemuan dengan pendidik dilakukan secara online saat mereka memerlukan diskusi. Model ini sesuai untuk peserta didik yang memerlukan flesibilitas tinggi dan ketidakterikatan jadwal dalam kehidupan sehari-harinya.

4. Enriched virtual model 

Peserta didik harus mengikuti pembelajaran tatap muka dengan pendidik, tetapi kemudian menyelesaikan mata pelajarannya di luar ruang kelas atau luar sekolahnya. Ada kemungkinan peserta didik tidak bertemu pendidiknya di pembelajaran terjadwal, formal, dan harian.

5. Flex model 

Dalam model pembelajaran ini, materi pelajaran dibagikan secara online dan peserta didik dituntut untuk belajar mandiri melalui media online, tetapi pendidik ada di ruangnya untuk selalu dapat ditemui oleh peserta didik yang memerlukannya. Peserta didik belajar dalam ruang kelas dengan alat pembelajaran secara online sebagai tulang punggung pelajaran, dengan pendidik memberikan bantuan jika diperlukan.

6. Online lab model 

Dalam model pembelajaran ini, peserta didik belajar seluruhnya melalui media online, tetapi mendatangi laboratorium komputer untuk menyelesaikan pelajarannya.

7. Self-blend model 

Dalam model pembelajaran ini, peserta didik mempunyai kesempatan untuk belajar hal lain di luar yang ditawarkan sekolahnya. Peserta didik secara individual menghadiri sekolah tradisionalnya (tatap muka), tetapi mereka dapat belajar pengayaan secara online. Model ini memberikan kesempatan bagi peserta didik yang memiliki motivasi tinggi dan menginginkan belajar lebih dari yang dapat ditawarkan oleh sekolah tradisionalnya.

ASPEK BLENDED LEARNING

Menurut Carman (2005), terdapat lima kunci karakteristik yang menjadi aspek-aspek utama dalam pembelajaran blended learning, yaitu sebagai berikut.

1. Live event 

Pembelajaran langsung atau tatap muka (instructor-led instruction) secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (seperti virtual classroom). Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung inipun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan. Pola ini, juga bisa saja mengkombinasikan teori behaviorisme, kognitivism dan konstructivism sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

2. Self-paced learning 

Self-Paced Learning yaitu mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar belajar kapan saja, dimana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya). Bahan belajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat didelivered secara online (via web maupun via mobile device dalam bentuk streaming audio, streaming video, e-book, dll) maupun offline (dalam bentuk CD, cetak, dll).

3. Collaboration 

Mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar yang kedua-duanya bisa lintas sekolah/kampus. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antar teman sejawat atau kolaborasi antar peserta belajar dan pengajar melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, listserv, mobile phone. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving, project-based learning, dll.

4. Assessment 

Dalam pembelajaran blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio) dalam bentuk project, produk dll. Di samping itu, juga perlu mempertimbangkan ramuan antara bentuk-bentuk assessmen online dan assessmen offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan assessmen tersebut.

5. Performance support materials 

Jika kita ingin mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatap muka virtual, pastikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak. Bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan belajar tersebut dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk CD, MP3, DVD, dll) maupun secara online. Atau, jika pembelajaran online dibantu dengan suatu Learning/ Content Management System (LCMS), pastikan juga bahwa aplikasi sistem ini telah terinstal dengan baik, mudah diakses, dan lain sebagainya.

MANFAAT BLENDED LEARNING

Terdapat beberapa manfaat bila mengimplementasikan model pembelajaran blended learning, yakni sebagai berikut.
  1. Aktivitas pembelajaran bisa dilakukan di lain tempat sehingga waktu bisa lebih efisien.
  2. Dapat memudahkan dalam aktivitas pembelajaran, karena dengan pembelajaran ini siswa bisa lebih ceria dan hemat tenaga.
  3. Anggaran untuk tugas bisa lebih hemat, karena dalam aktivitasnya siswa bisa menghemat kertas untuk tugas laporan fisik dan bisa menghemat perjalanan ke lokasi kelas. Alias bisa menghemat bensin dan waktu.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Menurut Riyana (2009), beberapa kelebihan atau keunggulan model pembelajaran blended learning adalah sebagai berikut.
  1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).
  2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
  3. Mampu menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
  4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archvlable capabilities).
Adapun beberapa kekurangan atau kelemahan dalam pembelajaran blended learning adalah: 
  1. Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung. 
  2. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi. 
  3. Blended learning masih sulit digunakan dalam mata pelajaran eksakta. 
  4. Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet.

Posting Komentar untuk "Pengertian Blended Learning : Aspek, Jenis, Manfaat, Kekurangan dan Kelebihan"