Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Belajar Kognitivisme menurut Piaget, Bruner dan Ausubel beserta Prinsip dan Implikasinya

Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

Dalam belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara individu dan lingkungan, dan hal itu terjadi terus-menerus sepanjang hayatnya. Kognisi adalah suatu perabot dalam benak kita yang merupakan “pusat” penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi baru, menarik simpulan dan sebagainya.

PRINSIP-PRINSIP TEORI BELAJAR KOGNITIVISME

Teori belajar kognitif memaparkan bahwa belajar dengan memusatkan pada aktivitas berpikir yang rumit (detail) dan sistem yang ada bisa mengubah cara pandang tentang kehidupan. Teori belajar kognitif difungsikan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah simpel dalam pembelajaran seperti menghafal dan juga menyelesaikan masalah rumit seperti menganalisa. Dengan begitu teori belajar kognitif memiliki prinsip umum yakni sebagai berikut.
  1. Aktivitas belajar merupakan perubahan pada sistem mental individu (perilaku).
  2. Belajar merupakan aktivitas untuk menguasai materi dari catatan.
  3. Langkah-langkah (proses) dalam belajar lebih esensial daripada hasil.
  4. Sudut pandang (persepsi) adalah perangkat yang paling berperan dalam tindakan seseorang.
  5. Materi pembelajaran yang dikategorikan menjadi bentuk yang lebih kecil dan dipisahkan akan menghilangkan esensi pengetahuan.
  6. Belajar merupakan aktivitas privat yang meliputi mengumpulkan data, menghafal, memahami data dan faktor mental lainnya.
  7. Kegiatan belajar adalah rangkaian berpikir dengan kompleks.
  8. Dalam rangkaian belajar sebaiknya tersusun berdasarkan dari urutan yang paling simpel hingga paling rumit (kompleks).
  9. Hal paling esensial dalam pembelajaran adalah pada keaktifan siswa.
  10. Variasi latar belakang siswa harus dipahami karena akan sangat menentukan dalam langkah selanjutnya.
Dalam teori ini ada dua bidang kajian yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar, yaitu sebagai berikut.
  1. Belajar tidak sekedar melibatkan stimulus dan respon tetapi juga melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks (Budiningsih, 2005:34).
  2. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Menurut psikologi kognitivistik, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu dengan jalan mengaitkan pengetahuan baru kedalam struktur berfikir yang sudah ada. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sehingga, pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukkan keberhasilan mempelajari informasi pengetahuan yang baru.
Sehingga dalam aliran kognitivistik ini terdapat ciri-ciri pokok. Adapun ciri-ciri dari aliran kognitivistik yang dapat dilihat adalah sebagai berikut.
1. Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia.
2. Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian.
3. Mementingkan peranan kognitif.
4. Mementingkan kondisi waktu sekarang.
5. Mementingkan pembentukan struktur kognitif.

TEORI BELAJAR MENURUT PIAGET

Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangannya sesuai dengan umurnya.  Pola dan tahap-tahap ini bersifat hierarkis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu sebagai berikut.

a. Tahap Sensorimotor (umur 0 - 2 tahun)

Tahap Sensorimotor menurut Piaget dimulai sejak umur 0 sampai 2 tahun. Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana.  Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah.  Kemampuan yang dimiliki antara lain sebagai berikut.
  1. Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek di sekitarnya.
  2. Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.
  3. Suka memperhatikan sesuat lebih lama.
  4. Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.
  5. Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.

b. Tahap Preoperasional (umur 2 - 7/8 tahun)

Piaget mengatakan tahap ini antara usia 2 - 7/8 tahun. Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan symbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif. 

Preoperasional (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsep nya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami objek. Karakteristik tahap ini adalah:
  1. Self counter nya sangat menonjol.
  2. Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok.
  3. Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar.
  4. Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan.

c. Tahap intuitif (umur 4 - 7 atau 8 tahun)

Pada tahap intuitif ini anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstraks. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini, anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman yang luas. Karakteristik tahap ini adalah :
  1. Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek, tetapi kurang disadarinya.
  2. Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks.
  3. Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.
  4. Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar. Dia mengerti terhadap sejumlah objek yang teratur dan cara mengelompokkannya. Anak kekekalan masa pada usia 5 tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah objek adalah tetap sama meskipun objek itu dikelompokkan dengan cara yang berbeda.

d. Tahap Operasional Konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan.  Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang ada di dalam dirinya. 

Karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam dirinya sehingga tindakannya lebih efektif.  Anak sudah tidak perlu coba-coba dan membuat kesalahan, karena anak sudah dapat berpikir dengan menggunakan model "kemungkinan" dalam melakukan kegiatan tertentu.  Ia dapat menggunakan hasil yang telah dicapai sebelumnya.  Anak mampu menangani sistem klasifikasi.

Namun sungguhpun anak telah dapat melakukan pengklasifikasian, pengelompokan dan pengaturan masalah (ordering problems) ia tidak sepenuhnya menyadari adanya prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya.  Namun taraf berpikirnya sudah dapat dikatakan maju.  Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.  Untuk menghindari keterbatasan berpikir anak perlu diberi gambaran konkret, sehingga ia mampu menelaah persoalan.  Sungguhpun demikian anak usia 7-12 tahun masih memiliki masalah mengenai berpikir abstrak.

e. Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan  menggunakan pola berpikir "kemungkinan".  Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-dedutive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa.  Pada tahap ini kondisi berpikir anak sudah dapat :
  1. Bekerja secara efektif dan sistematis.
  2. Menganalisis secara kombinasi.  Dengan demikian telah diberikan dua kemungkinan penyebabnya, C1 dan C2 menghasilkan R, anak  dapat merumuskan beberapa kemungkinan.
  3. Berpikir secara proporsional, yakni menentukan macam-macam proporsional tentang C1, C2 dan R misalnya.
  4. Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam isi.  Pada tahap ini mula-mula Piaget percaya bahwa sebagian remaja mencapai formal operations paling lambat pada usia 15 tahun.  Tetapi berdasarkan penelitian maupun studi selanjutnya menemukan bahwa banyak siswa bahkan mahasiswa walaupun usianya telah melampaui, belum dapat melakukan formal operation.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu akan berbeda dengan proses belajar yang dialami oleh seorang anak pada tahap preoperasional, dan akan berbeda pula dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional konkret, bahkan dengan mereka yang sudah berada pada tahap operasional formal.  

Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.  Guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan tahap-tahap tersebut.  Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa tidak akan ada maknanya bagi siswa.

TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER

Jerome S Bruner merupakan seorang ahli psikologi dari Universitas Havard, Amerika Serikat. Beliau sangat memberikan dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berfikir. 

Jerome Bruner memiliki pandangan perkembangan kognitif manusia, dan bagaimana manusia itu belajar, atau manusia dapat memperoleh pengetahuan. Menurut Jerome Bruner perkembangan seseorang terjadi melalui 3 tahapan yang ditentukan oleh cara melihat lingkungannya sebagai berikut.
  1. Tahap Enaktif (penggambaran benda nyata):  peserta didik melakukan aktivitas dalam usaha memahami lingkungan. Peserta didik juga melakukan observasi dengan cara mengalami suatu realitas. Contohnya ketika seorang guru memegang beberapa pensil, kemudian guru mengajak muridnya untuk berhitung menggunakan benda nyata (pensil). Atau juga tahap enaktif ini berbasis tindakan atau kinestetik.
  2. Tahap Ikonik : peserta didik ataupun seseorang sedang memahami objek-objek dunia melalui gambaran-gambaran atau visualisasi gambar.
  3. Tahapan Simbolik : seseorang memahami dunia melalui simbol-simbol, bahasa, logika, matematika, dll. Di tahap ini peserta didik mempunyai gagasan-gagasan yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika serta komunikasi dilakukan dengan pertolongan sistem simbol.
Proses belajar akan berjalan dengan baik apabila materi pelajaran dapat berkesinambungan atau saling terkait dengan kognitif yang sudah dimiliki oleh peserta didik. Salah satu teori belajar kognitivisme yang berkembang adalah Discovery Learning (Metode penemuan) dari Jerome Bruner sebagai berikut.
  1. Pembelajaran berbasis lingkungan : pembelajaran ini berkaitan dengan berwawasan lingkungan, menciptakan perilaku dan kebiasaan untuk mengharvai lingkungannya.
  2. Pembelajaran dengan percobaan : contohnya agar anak bisa memengerti atau mengetahui warna yang sedang dicampurkan secara bersamaan hingga bisa berubah warna. Dengan cara ada 1 buah bunga berwana putih kemudian diletakkan di sebuah wadah, kemudian mencampurkan 2 warna yang berbeda ke dalam wadah yang berisikan bunga. Kemudian ditunggu beberapa menit bunga akan menghasilkan warna yang berbeda dari campuran kedua warna tersebut.
  3. Pembelajaran pemecahan masalah : anak diajarkan untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Contohnya memberikan anak usia 4 tahun sebuah alat permainan yaitu puzzle, dengan catatan potongan puzzle hanya ada 4 atau 5 potong. Kemudian anak pasti akan mencoba menyusun puzzle tersebut hingga anak itu bisa menyelesaikan permainan tersebut.

TEORI BELAJAR BERMAKNA MENURUT AUSUBEL

Menurut Ausubel bahwa Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat pada struktur kognitif seseorang. Di dalam belajar bermakna, informasi baru diasimilasikan pada subsume-subsume yang ada. 

Ausubel membedakan antara belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima, siswa hanya menerima sehingga tinggal menghapalnya. Pada belajar menemukan, konsep sudah ditemukan oleh siswa, sehingga siswa tidak menerima materi pelajaran begitu saja. 

Selain itu, Ausubel juga berpendapat bahwa terdapat perbedaan mendasar antara belajar menghapal dengan belajar bermakna. Di dalam belajar menghapal, siswa menghapalkan materi yang sudah diperolehnya, sedangkan pada belajar bermakna, materi yang telah diperoleh tersebut tersebut dikembangkan sehingga belajarnya menjadi lebih dimengerti.

Menurut Ausubel, prasyarat belajar bermakna ada dua, sebagai berikut: (1) Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial; dan (2) Siswa yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan belakar bermakna. Sesuai pendapat Ausubel, faktor penting yang memengaruhi belajar adalah apa yang sudah diketahui siswa. Jadi agar terjadi belajar bermakna, konsep atau informasi batu harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa. Di dalam menerapkan teori Ausubel dalam belajar, terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, sebagai berikut.

a. Pengaturan awal (advance organizer)

Pengaturan awal mengarahkan siswa ke materi yang akan dipelajari dan mengingatkan siswa pada materi sebelumnya yang dapat digunakan untuk membantu guru dalam menanamkan konsep baru.

b. Diferensiasi progresif

Pengembangan kosep berlangsung paling baik jika unsur-unsur yang paling umum, paling inklusif dari suatu konsep diperkenalkan terlebih dahul, baru kemudian diberikan hal-hal yang lebih spesifik dan khusus dari konsep tersebut.

c. Belajar superordinat

Selama informasi diterima dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kogniif (subsumsi), maka konsep tersebut tumbuh dan mengalami diferensiasi. Belajar superordinat dapat terjadi apabila konsep-konsep yang telah dpelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur dari sebuah konsep yang lebih luas dan lebih inklusif.

d. Penyesuaian integratif (rekonsiliasi integratif)

Guru harus mampu memperlihatkan secara eksplisit bagaimana arti-arti baru dibandingkan dan dipertentangkan dengan arti-arti sebelumnya yang lebih sempit, dan bagaimana konsep-konsep yang tingkatannya lebih tinggi selanjutnya mengambil arti baru. 

Di dalam menerapkan teori Ausubel dalam pembelajaran, maka perlu digunakan dua fase, yaitu fase perencanaan dan fase pelaksanaan. Fase perencanaan terdiri dari menetapkan tujuan pembelajaran, mendiagnosis latar belakang pengetahuan siswa, membuat struktur materi dan memformulasikan pengetahuan awal. Sedangkan fase pelaksanaan, dalam pembelajaran terdiri dari pengaturan awal, diferensiasi progresif, dan rekonsiliasi integratif .

IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN

Bahwa ketika pelaksanaan dimulai, teori belajar kognitif akan mengambil gagasan dari tokoh seperti Bruner, Piaget, Gagne, Ausubel. Berikut merupakan rincian umum penerapan teori belajar kognitif.
  1. Belajar akan lebih fleksibel, yakni bisa berpusat pada guru bisa juga pada siswa, tapi satu hal yang pasti, siswa dituntut untuk lebih proaktif. Salah satu cara agar siswa bisa proaktif adalah dengan membimbing mereka untuk menemukan manfaat dari apa yang dipelajari. Jadi pelajaran yang akan diberikan siswa harus menarik.
  2. Materi dan model pembelajaran menjadi hal yang paling esensial. Dalam memilih materi dan model pembelajaran haruslah disesuaikan dengan jenjang siswa. Kuncinya adalah mencari referensi sebanyak mungkin dan membuat penelitian tentang siswa agar guru bisa memahami siswa dengan baik.
  3. Pada saat pembelajaran berlangsung, guru dituntut untuk selalu mencermati progress kognitif siswa. Karena dalam teori belajar kognitif guru harus memberi stimulus kepada siswa untuk berpikir.
  4. Ada waktunya proses belajar berpusat pada siswa agar mereka bisa mengenal apa yang diinginkan dalam pembelajaran. Sehingga mereka bisa menilai secara kritis mana yang baik dan buruk ketika memutuskan sebuah tujuan, khususnya tujuan belajar. 

REFERENSI

Budiningsih, C., Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: PT Rineka Cipta. Hal 35.
Heri MS
Heri MS Blogger Influencer dari Kuningan yang suka dengan dunia IT, Data Technology, website dan senang bereksplorasi tentang Ipteks. Semoga artikel saya ini bisa antik, otentik, asyik, unik dan menarik.

Posting Komentar untuk "Teori Belajar Kognitivisme menurut Piaget, Bruner dan Ausubel beserta Prinsip dan Implikasinya"